Hukum-hukum Seputar Jual Beli

Diantara bentuk kesempurnaan agama islam adalah ajarannya yang menyeluruh, dari yang sederhana seperti masalah buang air, tidur hingga masalah yang kompleks seperti aturan tata negara, kemasyarakatan serta aturan penghambaan atau Ubudiyyah dan aturan terhadap sesama manusia seperti perniagaan.

Walaupun banyak permasalahan yang terjadi di zaman sekarang yang tidak terjadi pada zaman nabi, namun islam masih tetap dapat menjawab hal tersebut, karena pada dasarnya masalah masalah tersebut memiliki prinsip dasar yang syariat telah mengaturnya.

Salah satu interaksi antar manusia yang paling sering terjadi yang terkadang kaum muslimin lalai dalam mempelajarinya adalah hukum perniagaan atau jual beli. Banyak kasus dalam permasalahan jual beli yang syariat melarangnya namun keumuman kaum muslimin mengerjakannya.

Definisi Jual Beli

Jual beli dalam bahasa indonesia artinya adalah persetujuan saling mengikat antara penjual, yakni pihak yang menyerahkan barang, dan pembeli sebagai pihak yang membayar harga barang yang dijual.

Dalam bahasa arab jual beli  (البيع) adalah memberi barang dan mengambil dan mengambil harga

Secara Syar’i  jual beli adalah tukar menukar harta dengan harta -walaupun dalam tunggangan- atau (tukar menukar harta dengan) jasa yang mubah dengan transaksi selamanya (bukan temporal), bukan riba dan pinjaman (al-Ahmadi, al-Amri, asy-Syarif, & al-Muthairi, 2018; al-Ahmadi, al-Amri, asy-Syarif, & al-Muthairi, 2018)

 

Landasan Hukum

Ibnu Qudamah(2016) Menyebutkan bahwa hukum jual beli adalah Jaiz atau mubah berdasarkan al-Quran, Sunnah dan Ijma’. Hal senadapun disebutkan oleh al-Juwaini(2017) bahwa hukum jual beli adalah mubah.

1.      Dalil dari al-Quran

وَأَحَلَّ ٱللَّهُ ٱلْبَيْعَ وَحَرَّمَ ٱلرِّبَوٰا

Artinya: “Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”(Q.S al-Baqarah:275)

وَأَشْهِدُوا إِذَا تَبَايَعْتُمْ

Artinya: “Hadirkanlah saksi apabila kalian berjual beli” (Q.S al-Baqarah: 282)

2.      Dalil dari Sunnah

Diriwayatkan dari Ibnu Umar Bahwa Nabi Muhammad Bersabda :

إِذَا تَبَايَعَ الرَّجُلَانِ فَكُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا وَكَانَا جَمِيعًا أَوْ يُخَيِّرُ أَحَدُهُمَا الْآخَرَ فَتَبَايَعَا عَلَى ذَلِكَ فَقَدْ وَجَبَ الْبَيْعُ وَإِنْ تَفَرَّقَا بَعْدَ أَنْ يَتَبَايَعَا وَلَمْ يَتْرُكْ وَاحِدٌ مِنْهُمَا الْبَيْعَ فَقَدْ وَجَبَ الْبَيْعُ

Artinya : "Jika dua orang melakukan jual beli maka masing-masingnya punya hak khiyar (pilihan) atas jual belinya selama keduanya belum berpisah. Jika keduanya sepakat atau salah satu dari keduanya memilih lalu dilakukan transaksi maka berarti jual beli telah terjadi dengan sah, dan seandainya keduanya berpisah setelah transaksi sedangkan salah seorang dari keduanya tidak membatalkan transaksi maka jual beli sudah sah” (H.R al-Bukhory)

3.      Dalil secara Ijma’

Ibnu Qudamah(2016) mengatakan bahwa Kaum Muslimin telah bersepakat atas kebolehannya jual beli secara umum. Hikmah pun menuntut untuk dibolehkannya hal tersebut karena kebutuhan manusia menuntut pada keberadaan jual beli, karena manusia memerlukan sesuatu yang ada di tangan orang lain dan kemashlahatan berkaitan dengannya, sementara tidak ada sarana baginya untuk mendapatkan dan meraihnya dengan jalan yang sah kecuali dengan jual beli.

 

Rukun serta Syarat Jual Beli

1.     Rukun Jual beli

Dalam jual beli terdapat  3 rukun, yaitu:

a.      Pelaku Akad (Penjual dan Pembeli)

b.     Objek Akad atau barang yang diperjual belikan

c.      Ijab dan Qobul

Ijab adalah kata kata yang keluar dari penjual seperti “Aku menjual”. Qabul adalah kata-kata yang keluar dari pembeli seperti “Aku membeli”. Keduanya adalah Ijab dan Qobul dalam bentuk perkataan. Adapun dalam bentuk perkataan Penjual dan Pembeli melakukan tindakan saling memberikan barang tanpa disertai perkataan. (al-Ahmadi, al-Amri, asy-Syarif, & al-Muthairi, 2018)

2.     Syarat Jual Beli

Terdapat 5 syarat jual beli yang disebutkan oleh al-Ahmadi Dkk(2018), yaitu:

a.       Antara penjual dan pembeli saling ridha

b.      Pelaku Akad adalah orang yang boleh melakukan jual beli (tidak dicekal tindakannya), yaitu Dia adalah orang dewasa, berakal, merdeka dan bertindak lurus

c.       Penjual adalah pemilik barang tersebut, atau berkedudukan sebagai pemilik barang.

d.      Barang yang diperjualbelikan adalah barang yang boleh untuk dimanfaatkan secara syariat

e.       Status Objek akad bisa diserah terimakan.

Jual Beli yang dilarang

          Dalam jual beli, terdapat beberapa hal yang dilarang, diantaranya jual beli yang mengakibatkan hilangnya hal yang lebih penting dari jual beli, seperti menyibukkan diri dan lalai dari ibadah yang wajib atau mengakibatkan kerugian bagi orang lain. Diantara jual beli yang dilarang sebagaimana yang disebutkan oeh Ibnu Qudamah (2018) dalam al-‘Umdah al-Fiqh, yaitu:

  1. a.        Menjual barang yang bukan milik penjual, kecuali dengan ijin yang pemiliknya
  2. b.      Menjual barang yang tidak memiliki manfaat
  3. c.       Menjual barang yang haram untuk dimanfaatkan, seperti Khamr
  4. d.      Menjual barang yang tidak ada
  5. e.       Menjual sesuatu yang sifat/karakteristiknya tidak diketahui
  6. f.        Menjual sesuatu yang tidak bisa diserakan, seperti budak yang kabur
  7. g.      Menjual sesuatu yang tidak pasti bendanya, seperti menjual salah satu dari kambingnya tanpa menentukan kambing yang mana
  8. h.      Jual beli Mulamasah, yaitu seseorang mengatakan “menyentuh berarti membeli”
  9. i.        Jual beli Munabadzah, yaitu seseorang mengatakan “barang manapun yang engkau lemparkan padaku maka itu untukmu dengan harga sekian”
  10. j.        Jual beli Bai’ul hashat, yaitu seseorang mengatakan “lemparkanlah kerikil ini. Barang manapun yang kena lemparan maka itu untukmu dengan harga sekian”
  11. k.      Membeli barang yang sedang/ akan dibeli oleh Sudaranya(Seiman)
  12. l.        Jual beli Hadhir libad, yaitu seseorang menjadi makelar sorang pedagang dalam menjual dagangannya
  13. m.    Jual beli Najasy, yaitu seseorang yang tidak ingin membeli namun menawar barang dagangan dengan harga yang tinggi agar orang lain menawar dengan
  14. n.      Jual beli dengan 2 akad dalam 1 majlis.

Jenis Akad berdasarkan ketentuan Syariat

Para Ulama selain Madzhab Hanafi memagi akad menjadi akad Shahih dan Ghairu Shahih(batil)  sedangkan ulama hanafi membagi akad Ghairu Shahih menjadi akad fasid dan akad batil.

·        Akad Shahih adalah akad yang terpenuhi rukun dan syaratnya

·        Akad Batil adalah akad yang tidak terpenuhi rukun atau syaratnya

·        Akad Fasid adalah akad yang terpenuhi syarat dan rukunnya namun dilarang oleh syariat, seperti  jual beli saat sedang berlangsungnya shalat jumat.


 

Bibliography

al-Ahmadi, A. M., al-Amri, A. S., asy-Syarif, A. F., & al-Muthairi, F. s. (2018). Fikih Muyassar: Panduan Praktis Fikih dan Hukum Islam (7 ed.). (I. Karimi, Penerj.) Jakarta: Darul Haq.

al-Bai' (Def. 1) Mu'jam al-Ghaniy. (t.thn.). Dipetik November 25, 2021, dari https://www.maajim.com/dictionary/%D8%A8%D9%8A%D8%B9/8/%D9%85%D8%B9%D8%AC%D9%85%20%D8%A7%D9%84%D8%BA%D9%86%D9%8A

al-Bukhory, M. I. (2020). Shahih al-Bukhary. Kairo: Dar Ibn al-Jauzy.

al-Juwaini, A. A. (2017). Nihayah al-Mathlab fi Dirayah al-Madzhab (4 ed., Vol. 5). Jeddah: Dar al-Minhaj.

Ibn Qudamah, A. A. (2016). al-Mughni: Syarh Mukhtashar al-Khiraqi (1 ed., Vol. 3). Mesir: al-Dar al-'Alamiyyah.

Ibnu Qudamah, A. A. (2018). al-'Umdah fi al-Fiqh. Beirut: Dar al-Basyair al-Islamiyyah.

Jual Beli (Def. 1) Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online. (t.thn.). Dipetik November 25, 2021, dari https://kbbi.web.id/jual%20beli

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dikotomi Ilmu