Syarah Hadits Niat

  •  

Hadits tentang niat adalah satu diantara 3 hadits yang menjadi poros syariat. Niat tidak sekedar perkataan “saya berniat”, melainkan niat adalah keinginan kuat untuk melaksanakan ibadah demi mendekatkan diri kepada Allah (al-Utsaimin, 2019, hal. 13). Hadits niat yang redaksinya berada dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim namun lebih popule kebanyakan orang mengetahuinya berada di Arbain Imam An-Nawawi. Redaksi yang dibawakan oleh Imam Nawawi(2009, hal 46) adalah,

Dari Amir al-Mu’minin Umar bin Khattab Radhiyallah anhu, Dia berkata: Aku mendengar Nabi Shallallahu ‘Alaih wa Sallam bersabda:

إنما الأعمال بالنيات , وإنما لكل امرئ ما نوى , فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله , ومن كانت هجرته إلى دنيا يصيبها أو امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه

Artinya : “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju” (H.R Bukhari no.1; H.R Muslim no.1907)

Imam Syafii berkata, “Bahwa hadits ini adalah sepertiga ilmu” (Farid, 2019, hal. 22). Abdurrahman bin Mahdi, berkata “Selayaknya bagi setiap penyusun kitab memulai tulisannya dengan hadits ini untuk mengingatkan para penuntut ilmu agar meluruskan niat” (Alu Mubarak, 2020, hal. 26).

Penjelasan Makna Hadits

·         إنما الأعمال بالنيات

Maksud dari sabda beliau “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya” adalah bahwa baik suatu amalan tergantung kepada niat baiknya niat. Farid(2019, hal 22) mengatakan bahwa sabda ini khusus berkenaan dengan amal ketaatan dan amal mubahm bukan kemaksiatan karena niat baik tidak bisa merubah kemaksiatan. Sabda Nabi inipun menjadi dalil syarat diterimanaya suatu ibadah serta syarat yang lainnya adalah Ittiba’(mengikuti) Nabi.

al- Utsaimin(2019, hal 14) menjelaskan bahwa fungsi niat adalah membedakan antara kebiasaan dengan ibadah dan membedakan antara suatu ibadah dengan ibadah yang lain. Contoh dari membedakan antara kebiasaan dengan ibadah adalah apabila seseorang tidur dimalam hari, maka tidur tersebut dapat bernilai ibadah apabila diniatkan untuk mengistirahatkan badannya agar dapat melaksanakan shalat tahajud akan tetapi apabila tidak ada niat mengiringinya maka tidur tersebut tidak bernilai ibadah, hanya sebatas kebiasaan manusia pada umumnya. Sedangkan sebagai pembeda antara satu ibadah dengan ibadah lainnya adalah apabila seseorang melaksanakan shalat 2 rakaat saat telah masuk waktu shubuh, maka yang menjadi pembeda apakah dia melaksanakan shalat rawatib atau wajib adalah niatnya.

·         وإنما لكل امرئ ما نوى

Maksud dari sabda beliau “Dan setiap orang akan mendapatkan yang ia niatkan” adalah seseorang akan diganjar bergantung kepada niatnya. Farid(2019, hal 22-23) menjelaskan bahwa ketaatan dapat berubah menjadi kemaksiatan karena niat serta berlipat gandanya pahala tergantung kepada niatnya. Imam Muslim(2020, hal 463-464, no. 1905) meriwayatkan bahwa

 Nabi Shallallah ‘Alaih wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya manusia pertama yang diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid di jalan Allah. Dia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan (yang diberikan di dunia), lalu ia pun mengenalinya. Allah bertanya kepadanya : ‘Amal apakah yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Ia menjawab : ‘Aku berperang semata-mata karena Engkau sehingga aku mati syahid.’ Allah berfirman : ‘Engkau dusta! Engkau berperang supaya dikatakan seorang yang gagah berani. Memang demikianlah yang telah dikatakan.’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret orang itu atas mukanya , lalu dilemparkan ke dalam neraka. Berikutnya adalah seorang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya serta membaca al Qur`an. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengakuinya. Kemudian Allah menanyakannya: ‘Amal apakah yang telah engkau lakukan dengan kenikmatan-kenikmatan itu?’ Ia menjawab: ‘Aku menuntut ilmu dan mengajarkannya, serta aku membaca al Qur`an hanyalah karena engkau.’ Allah berkata : ‘Engkau dusta! Engkau menuntut ilmu agar dikatakan seorang ‘alim dan engkau membaca al Qur`an supaya disebut seorang qari’. Memang begitulah yang dikatakan .’ Kemudian diperintahkan(malaikat) agar menyeret atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka. Berikutnya adalah orang yang diberikan kelapangan rezeki dan berbagai macam harta benda. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengenalinya. Allah bertanya : ‘Apa yang engkau telah lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Dia menjawab : ‘Aku tidak pernah meninggalkan shadaqah dan infaq pada jalan yang Engkau cintai, melainkan pasti aku melakukannya semata-mata karena Engkau.’ Allah berfirman : ‘Engkau dusta! Engkau berbuat yang demikian itu supaya dikatakan seorang dermawan dan memang begitulah yang dikatakan.’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeretnya atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka”.

ketiga amalan diatas termasuk kedalam amal-amal yang agung yang berpahala besar, akan tetapi ketiga amalan tersebut berubah menjadi siksa karena terdapat Sum’ah dalam niatnya. Amal yang kecilpun dapat bernilai besar bila diiringi dengan niat yang tulus; ikhlas kerena Allah Ta’ala, Imam Muslim(2020, hal 540, no 2245) meriwayatkan seseorang wanita pezina yang memberikan yang memberi minum seekor anjing yang kehausan, lalu allah mengampuni dosanya dengan sebab amalnya tersebut. Seseorang salaf berkata, “Bisa jadi amalan kecil menjadi besar karena niat dan bisa jadi amalan besar menjadi kecil karena niat” (Farid, 2019, hal. 24)

·         فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله , ومن كانت هجرته إلى دنيا يصيبها أو امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه

Maksud dari sabda Beliau, “Barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju” sebagaiman yang dikatakan Ibnu Daqiq al-Id bahwa hal ini berkaitan tentang seseorang laki-laki yang malakukan hijrah dari Mekah ke Madinah dengan tidak menginginkan keutamaan hijrah. Ia berhijrah dengan niat ingin menikahi perempan bernama Ummu Qois. Oleh karena itu terdapat penyebutan wanita secara khusus (Alu Mubarak, 2020, hal. 26). Sabda nabi inipun merupakan contoh dari 2 kalimat awal sebagai penggambaran bahwa satu pekerjaan yang sama dapat bernilai pahala dan tidak berdasarkan kepada niatnya.

Al-Utsaimin(2019, hal 11) menjelaskan bahwa sabda إلى ما هاجر إليهberdasarkan sisi balaghah bermakna merendahkan tujuan hijrah orang tersebut, Nabi tidak menyebutkan إلى دنيا يصيبهاkarena hal ini tidak layak untuk disebut, akan tetapi cukup dengan kiasan إلى ما هاجر إليه”.

Penutup

            Penting bagi setiap muslim untuk mempelajari tentang niat, supaya keabsahan amalnya tetap terjaga, serta untuk terus memperbaharui niatnya ketika akan melakukan suatu amal, ketika melaksanakan amal dan setelah amalitu selesai.


 

Daftar Pustaka

al-Bukhary, M. I. (2020). Shahih al-Bukhary. Kairo: Dar Ibn al-Jauzy.

al-Naisabury, M. H. (2020). Shahih Muslim. Kairo: Dar Ibn al-Jauzy.

Al-Nawawy, Y. I. (2009). al-Arba'un al-Nawawy. Jeddah: Dar al-Minhaj.

Alu Mubarak, F. A. (2020). Riyadhus Shalihin dan Penjelasannya. (Tim Penerjemah Ummul Qura, Penerj.) Jakarta Timur: Ummul Qura.

al-Utsaimin, M. S. (2019). Syarah Hadits Arbain. (I. Karimi, Penerj.) Jakarta: Darul Haq.

Farid, A. (2019). Tazkiyatun Nafs: Belajar Membersihkan Hati . (U. Mujtahid, Penerj.) Solo: Taqiya Publishing.

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dikotomi Ilmu