Syarah Hadits Niat
Hadits tentang
niat adalah satu diantara 3 hadits yang menjadi poros syariat. Niat tidak sekedar perkataan
“saya berniat”, melainkan niat adalah keinginan kuat untuk melaksanakan ibadah
demi mendekatkan diri kepada Allah
Dari Amir
al-Mu’minin Umar bin Khattab Radhiyallah anhu, Dia berkata: Aku
mendengar Nabi Shallallahu ‘Alaih wa Sallam bersabda:
إنما الأعمال بالنيات , وإنما لكل امرئ ما نوى , فمن كانت هجرته
إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله , ومن كانت هجرته إلى دنيا يصيبها أو
امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه
Artinya : “Sesungguhnya
setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang
ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya
untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau
karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju” (H.R
Bukhari no.1; H.R Muslim no.1907)
Imam Syafii berkata, “Bahwa
hadits ini adalah sepertiga ilmu”
Penjelasan Makna Hadits
·
إنما الأعمال بالنيات
Maksud dari sabda beliau “Sesungguhnya setiap
amalan tergantung pada niatnya” adalah bahwa baik suatu amalan tergantung
kepada niat baiknya niat. Farid(2019, hal 22) mengatakan bahwa sabda ini khusus
berkenaan dengan amal ketaatan dan amal mubahm bukan kemaksiatan karena niat
baik tidak bisa merubah kemaksiatan. Sabda Nabi inipun menjadi dalil syarat
diterimanaya suatu ibadah serta syarat yang lainnya adalah Ittiba’(mengikuti)
Nabi.
al- Utsaimin(2019, hal 14) menjelaskan bahwa
fungsi niat adalah membedakan antara kebiasaan dengan ibadah dan membedakan
antara suatu ibadah dengan ibadah yang lain. Contoh dari membedakan antara
kebiasaan dengan ibadah adalah apabila seseorang tidur dimalam hari, maka tidur
tersebut dapat bernilai ibadah apabila diniatkan untuk mengistirahatkan
badannya agar dapat melaksanakan shalat tahajud akan tetapi apabila tidak ada
niat mengiringinya maka tidur tersebut tidak bernilai ibadah, hanya sebatas kebiasaan
manusia pada umumnya. Sedangkan sebagai pembeda antara satu ibadah dengan
ibadah lainnya adalah apabila seseorang melaksanakan shalat 2 rakaat saat telah
masuk waktu shubuh, maka yang menjadi pembeda apakah dia melaksanakan shalat
rawatib atau wajib adalah niatnya.
·
وإنما لكل امرئ ما نوى
Maksud
dari sabda beliau “Dan setiap orang akan mendapatkan yang ia niatkan” adalah
seseorang akan diganjar bergantung kepada niatnya. Farid(2019, hal 22-23)
menjelaskan bahwa ketaatan dapat berubah menjadi kemaksiatan karena niat serta
berlipat gandanya pahala tergantung kepada niatnya. Imam Muslim(2020, hal 463-464,
no. 1905) meriwayatkan bahwa
Nabi Shallallah
‘Alaih wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya
manusia pertama yang diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid di
jalan Allah. Dia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan
(yang diberikan di dunia), lalu ia pun mengenalinya. Allah bertanya kepadanya :
‘Amal apakah yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Ia menjawab : ‘Aku
berperang semata-mata karena Engkau sehingga aku mati syahid.’ Allah berfirman
: ‘Engkau dusta! Engkau berperang supaya dikatakan seorang yang gagah berani.
Memang demikianlah yang telah dikatakan.’ Kemudian diperintahkan (malaikat)
agar menyeret orang itu atas mukanya , lalu dilemparkan ke dalam neraka.
Berikutnya adalah seorang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya serta membaca
al Qur`an. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya,
maka ia pun mengakuinya. Kemudian Allah menanyakannya: ‘Amal apakah yang telah
engkau lakukan dengan kenikmatan-kenikmatan itu?’ Ia menjawab: ‘Aku menuntut
ilmu dan mengajarkannya, serta aku membaca al Qur`an hanyalah karena engkau.’
Allah berkata : ‘Engkau dusta! Engkau menuntut ilmu agar dikatakan seorang ‘alim
dan engkau membaca al Qur`an supaya disebut seorang qari’. Memang
begitulah yang dikatakan .’ Kemudian diperintahkan(malaikat) agar menyeret atas
mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka. Berikutnya adalah orang yang
diberikan kelapangan rezeki dan berbagai macam harta benda. Ia didatangkan dan
diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengenalinya.
Allah bertanya : ‘Apa yang engkau telah lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Dia
menjawab : ‘Aku tidak pernah meninggalkan shadaqah dan infaq pada jalan yang
Engkau cintai, melainkan pasti aku melakukannya semata-mata karena Engkau.’
Allah berfirman : ‘Engkau dusta! Engkau berbuat yang demikian itu supaya
dikatakan seorang dermawan dan memang begitulah yang dikatakan.’ Kemudian
diperintahkan (malaikat) agar menyeretnya atas mukanya dan melemparkannya ke
dalam neraka”.
ketiga
amalan diatas termasuk kedalam amal-amal yang agung yang berpahala besar, akan
tetapi ketiga amalan tersebut berubah menjadi siksa karena terdapat Sum’ah
dalam niatnya. Amal yang kecilpun dapat bernilai besar bila diiringi dengan
niat yang tulus; ikhlas kerena Allah Ta’ala, Imam Muslim(2020, hal 540,
no 2245) meriwayatkan seseorang wanita pezina yang memberikan yang memberi
minum seekor anjing yang kehausan, lalu allah mengampuni dosanya dengan sebab
amalnya tersebut. Seseorang salaf berkata, “Bisa jadi amalan kecil menjadi
besar karena niat dan bisa jadi amalan besar menjadi kecil karena niat”
·
فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله , ومن
كانت هجرته إلى دنيا يصيبها أو امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه
Maksud dari sabda Beliau, “Barangsiapa
yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan
Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita
yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju” sebagaiman yang dikatakan
Ibnu Daqiq al-Id bahwa hal ini berkaitan tentang seseorang laki-laki yang
malakukan hijrah dari Mekah ke Madinah dengan tidak menginginkan keutamaan
hijrah. Ia berhijrah dengan niat ingin menikahi perempan bernama Ummu Qois.
Oleh karena itu terdapat penyebutan wanita secara khusus
Al-Utsaimin(2019, hal 11)
menjelaskan bahwa sabda إلى ما هاجر” إليه” berdasarkan sisi balaghah bermakna
merendahkan tujuan hijrah orang tersebut, Nabi tidak menyebutkan “إلى
دنيا يصيبها” karena hal ini tidak layak untuk disebut, akan
tetapi cukup dengan kiasan إلى ما
هاجر” إليه”.
Penutup
Penting
bagi setiap muslim untuk mempelajari tentang niat, supaya keabsahan amalnya tetap
terjaga, serta untuk terus memperbaharui niatnya ketika akan melakukan suatu
amal, ketika melaksanakan amal dan setelah amalitu selesai.
Daftar Pustaka
al-Bukhary, M. I.
(2020). Shahih al-Bukhary. Kairo: Dar Ibn al-Jauzy.
al-Naisabury, M.
H. (2020). Shahih Muslim. Kairo: Dar Ibn al-Jauzy.
Al-Nawawy, Y. I. (2009). al-Arba'un al-Nawawy.
Jeddah: Dar al-Minhaj.
Alu Mubarak, F. A. (2020). Riyadhus Shalihin dan
Penjelasannya. (Tim Penerjemah Ummul Qura, Penerj.) Jakarta Timur: Ummul
Qura.
al-Utsaimin, M. S. (2019). Syarah Hadits Arbain.
(I. Karimi, Penerj.) Jakarta: Darul Haq.
Farid, A. (2019). Tazkiyatun Nafs: Belajar
Membersihkan Hati . (U. Mujtahid, Penerj.) Solo: Taqiya Publishing.
Komentar
Posting Komentar